Lapisnews.com, Mateng – Aroma jahe dan santan menyeruak di tengah hiruk pikuk lalu lintas malam di Jalan Trans Sulawesi, tepatnya di depan Cafe Kilo Satu (KMS), Desa Topoyo Kecamatan Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) Sulawesi Barat. Dari sebuah kedai sederhana berukuran 4×7 meter persegi beratapkan terpal. Irfan atau yang akrab disapa Om Kumis (40), menjajakan minuman tradisional sarabba dan aneka gorengan.
Setiap malam, kedai miliknya selalu ramai pengunjung. Dengan harga terjangkau, sarabba dijual Rp5.000 per gelas dan Rp10.000 jika menggunakan telur ayam kampung. Dari usahanya itu, Irfan mampu meraup omzet harian antara Rp 700 Ribu hingga Rp 900 Ribu.
“Alhamdulillah, ramai terus. Kalau malam-malam begini, orang-orang suka minuman hangat. Apalagi kalau hujan,” kata Irfan saat ditemui di kedainya, jumat, 30 Mei 2025.
Sarabba merupakan minuman khas Bugis – Makassar berbahan dasar jahe merah, gula merah, santan, dan telur, menjadi andalan Irfan. Disajikan panas-panas, minuman ini memberi sensasi hangat di tubuh. Tak hanya itu, Ia juga menyediakan berbagai gorengan seperti pisang goreng, ubi goreng, hingga pisang epe yang turut diminati pembeli.
Irfan mengatakan usaha ini dirintis sejak tahun 2020, bermodalkan sekitar satu juta rupiah dan berkat pengalaman sang istri membuat sarabba. Awalnya, Ia hanya mampu menjual 30 hingga 40 gelas sarabba per malam. Namun kini, berkat konsistennya dan cita rasa yang khas, penjualannya meningkat hingga lebih dari 80 gelas dan ratusan potong gorengan setiap malam.
Pembelinya datang dari berbagai kalangan. Mulai dari warga sekitar, pekerja kantoran, mahasiswa, hingga aparat kepolisian kerap mampir untuk menikmati suasana hangat di kedai Om Kumis. Salah satunya Rahmat, yang hampir setiap malam nongkrong di kedai ini.
“Sejak dulu, saya langganan. Sarabba-nya beda. Nggak bikin enek, justru bikin nagih,” kata Rahmat sambil tertawa kecil.
Ke depan, Irfan berharap usahanya bisa berkembang lebih jauh. Ia mulai memikirkan kemungkinan membuka cabang di beberapa lokasi lain di Mateng dan menjual sarabba dalam bentuk kemasan agar lebih praktis dan bisa menjangkau pasar yang lebih luas.
“Insya Allah, kalau rezeki lancar, saya mau coba buka cabang di tempat lain juga. Sarabba-nya juga, rencananya akan saya kemas dalam bentuk botol, jadi orang bisa tinggal seduh di rumah. Sekarang, kalau ada pembeli yang tidak minum di tempat, saya biasa bungkus pakai gelas cap,” pungkasnya










Komentar