LAPISNEWS.COM, PASANGKAYU – Komandan Pos Binpotmar TNI-AL Pasangkayu Letda Laut (E) Mei Handoko menghadiri langsung kegiatan Seminar Kebangsaan dalam rangka Memperkuat Rasa Kebangsaan dan nasionalisme pemuda Pasangkayu.
Kegiatan tersebut berTema “ Penguatan Rasa Kebangsaan Dan Nasionalisme Generasi Muda Dalam Konteks Kebhinekaan Di Kabupaten Pasangkayu”.
Kegiatan itu pun berlangsung di aula kantor Kementrian Agama, jl. Ir Soekarno, kabupaten Pasangkayu, provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), kamis (30/01/2025).
Turut hadir juga dalam kegiatan tersebut, Ketua Nahdatul Ulama Pasangkayu H. Khaeryl Musa, S.Hi., Ketua MUI Pasngkayu Dr. H. Maslim Halimun, MA., Sertu Fahri Babinsa Koramil 1427-01/Pasangkayu., Kabid Wawasan Kebangsaan Kesbangpol Kabupaten Pasangkayu Sudarmi M., 14 orang anggota Ansor, 15 orang anggota HMI komisariat Pasangkayu, 13 orang pemuda Muhammadiyah pasangkayu, 17 orang anggota IPMU IPPNU Pasangkayu, anggota BEM STKIP Tomakaka, 15 orang mahasiswa UT Pokjar pasangkayu, 14 orang mahasiswa UNASMAN Pasangkayu, 10 orang siswa SMAN 1 pasangkayu, 6 orang siswa MA DDI pasangkayu serta moderator kegiatan Ahmad Ramadhan.
Komandan Pos Binpotmar TNI AL Pasangkayu dalam sambutannya ia mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Pasangkayu yang Sudah memberikan kesempatan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata dengan mengambil tema Penguatan Rasa Kebangsaan dan Nasionalisme Generasi Muda dalam konteks kebhinekaan di Kabupaten Pasangkayu.
Letda Laut (E) Mei Handoko mengatakan, Sejarah mencatat bahwa sudah puluhan tahun Indonesia terjajah oleh bangsa-bangsa asing yang mengeruk hasil bumi dan menyengsarakan rakyat. Mengapa pada saat itu Indonesia bisa terjajah sedangkan kalau kita belajar Sejarah, Indonesia pernah memiliki kerajaan-kerajaan besar yang disegani sampai dengan mancanegara karena memiliki pasukan yang kuat seperti Kerajaan Sriwijaya dengan armada lautnya yang kuat, Kerajaan Majapahit yang mampu menyatukan Nusantara, Kesultanan Samudera Pasai, Kesultanan yang ada di Jawa, Kesultanan di Kalimantan serta Kesultanan di Ternate dan di Tidore sampai serta Kesultanan-kesultanan di Sulawesi yang sampai dijuluki sebagai pelaut ulung.
“Pertanyaannya adalah, mengapa dengan Kerajaan dan kesultanan yang kuat dan besar tersebut kita bisa dijajah oleh negara-negara asing jawabannya adalah karena kerajaan dan kesultanan yang ada pada saat itu runtuh karena ada pihak-pihak yang haus akan kekuasaan, mudah diprovokasi, mengikuti budaya asing dengan suka berfoya-foya dan minum-minumann keras seperti yang terjadi di perang Padri di Minangkabau antara kaum Padri (ulama) dengan kaum adat” Ujar Letda Laut (E) Mei Handoko.
Lanjut,- Konsep yg digunakan kolonial untuk menguasai suatu daerah/negara pada saat itu yaitu politik Divide et impera/adu domba.
Adapun Ciri-ciri politik Divide et impera itu sendiri adalah :
– Membuat perbedaan menjadi konflik.
– Memanfaatkan kelemahan lawan.
– Membuat rakyatnya saling curiga dan bermusuhan.
– Menggunakan propaganda dan manipulasi informasi.
“Negara kita saat ini sedang berproses dari negara berkembang menjadi negara yang maju agar menjadi poros dunia dan disegani oleh negara-negara luar. Dan Mengapa cita-cita kita bisa sedemikian besar karena negara kita diberikan karunia yang sangat luar biasa dari Allah SWT berupa modal SDA yang melimpah baik yang sudah dieksplorasi maupun yang belum dieksplorasi. Oleh karena itu penggunaan dan pemanfaatannya perlu dikontrol dan diawasi sebaik-baiknya agar bermanfaat bagi seluruh rakyat Indonesia”Ucapnya.
Lebih lanjut, ia juga mengatakan, Negara-negara asing memanfaatkan putra-putri daerah tersebut untuk menciptakan ketidakstabilan politik, hukum dan keamanan yang mengedepankan kedaerahan dan membuat opini ketidakpercayaan terhadap kinerja pemerintah yang akhirnya timbul faham radikalisme atau sebagai contoh lainnya yaitu pengeboman yang terjadi di gereja-gereja tempat ibadah lain yang tujuannya untuk mengadu domba antar umat beragama dengan mendeskreditkan umat Islam.
“Oleh karena itu para adik-adik mahasiswa dan pelajar harus waspada dengan pola-pola tersebut harapannya agar adik-adik mahasiswa dan pelajar bisa membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku agar lebih toleran dan terbuka terhadap perbedaan agar mampu menangkal radikalisme dan terorisme”Ucapnya.
Sesuai dengan visi dan misi Presiden dan Wapres RI yaitu ” Bersama Indonesia Maju menuju Indonesia Emas 2045 “, Visi dan misi Presiden dan Wapres RI yang dituangkan dalam Asta Cita yaitu :
– Memperkokoh ideologi dengan memperkuat ideologi Pancasila, demokrasi dan HAM.
– Memantapkan sishan dengan mendorong kemandirian dan produksi alutsista dalam negeri.
– Meningkatkan lapangan kerja yg berkualitas, mendorong kewirausahaan dan mengembangkan industri kreatif.
– Memperkuat SDM dalam bidang sains, teknologi, pendidikan dan kesehatan.
– Melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri.
– Membangun dari desa dan bawah dgn tujuan untuk pemerataan pembangunan dan pemberantasan kemiskinan.
– Memperkuat reformasi politik dalam bidang hukum dan birokrasi untuk pencegahan dan pemberantasan korupsi dan narkoba.
– Memperkuat penyelarasan kehidupan yg bertujuan untuk kehidupan yg harmonis dgn lingkungan, alam dan budaya serta meningkatkan toleransi dan kerukunan antar umat beragama untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur.











Komentar