LAPISNEWS.COM,-Mamuju – Pemerintah Sulawesi Barat terus mendorong program pengentasan anak putus Sekolah (ATS) dan stunting baik tingkat provinsi Sulawesi barat dan seluruh Kabupaten yang ada di Sulbar. Apalagi Persoalan ini menjadi salah satu focus penanganan program yang dicanangkan PJ Gubenrur Sulbar .
Dalam program Penanganan Anak Putus sekolah, Mifhtar Kepala Dinas Provinsi Sulbar, menjelaskan, ATS terus menjadi perhatian dan penanganan dinas pendidikan Sulawesi barat, Apalagi menjadi perhatian PJ Gubernur untuk bisa mengembalikan anak ATS untuk bisa bersekolah kembali.
Namun untuk tingkat jenjang SD, SMP merupakan wilayah koordinasi Kabupaten setempat, jadi setiap ada laporan untuk tingkat SD, SMP harus kami koordinasi terlebih dahulu dengan melaporkan kembali untuk bersama sama menangani. Namun tingkat SMA dan SMK merupakan wilayah penanganan Diknas Provinsi, Ujar Miftar, Rabu 30 Agustus 2023 diruang kerjanya.
“untuk penanganan anak putus sekolah, tentu kami melihat segi permasalahan tentang apa alasan anak tersebut putus sekolah atau memang tidak bersekolah. Karena ini permasalahan yang berbeda-beda. Jadi melihat berbagai factor alasan mengapa anak tersebut tidak melanjutkan, apakah karna jarak dari rumahnya ke sekolah jauh, atau segi ekonomi. Nah ini perlu dipilah lebih dahulu dan perlu kami rembukkan bersama untuk mencari jalan keluar, dimana tentunya melalui koordinasi pihak pihak terkait.
Untuk laporan di Desa Saletto dimana terdapat ada anak yang putus sekolah baik tingkat SD, SMP, dan SMA inilah yang akan kami tinjau bersama nantinya dan akan kami carikan jalan untuk bisa bersekolah kembali.
untuk itu, mendengar adanya laporan bahawa ada anak putus sekolah di tingkat SD, SMP, saya menugaskan Kepala Balai pengembangan Teknologi Informasi Komunikasi (BPKTIK) Diknas Sulbar, Oktorio Abraham Sariqih untuk melakukan koordinasi di Dinas Pendidikan pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju, terkait adanya laporan ATS tingkat SD dan SMP di daerah Mamuju pada Rabu, 30 Agustus 2023.
Selain itu, Saharuddin Sekretaris Dinas pendidikan Dan Pemuda Olahraga Kabupaten Mamuju, saat ditemui diruang kerjanya menyampaikan bahwa terkait anak putus sekolah sesuai data yang kami terima dari diknas provinsi dan ada dari pihak BKKBN terkait anak putus sekolah dimamuju, ataupun laporan yang tidak terdata yang kami peroleh, pihak diknas telah melakukan pengecekan kebenaran dengan melakukan koordinasi dengan melibatkan pihak, baik tingkat desa maupun tim yang ada diknas kabupaten.
Namun ada beberapa hal yang kami dapat dilapangan bahwa ada beberapa data dimana anak yang terdaftar dalam data putus sekolah ternyata telah sekolah bahkan ada yang lagi tahap ujian dan itu temuan kami dilapangan. Nah laporan ini perlu ada perbaikan dalam penanganan data.
“Diknas kabupaten mamuju bersama provinsi akan focus dalam penanganan anak putus sekolah dan anak stunting, terkait adanya persoalan diperlukan kolaborasi bersama pihak terkait.
Dengan adanya kolaborasi yang baik tentang permasalahan dilapangan, tentunya dapat terselesaikan dengan cepat, apalagi persoalan ATS dan Stnting mendapat respon dari pak Pj gubernur Sulbar, tentu ini merupakan angin segar bagi kami.
“kami juga ada beberapa program dimana untuk penanganan stunting, sudah ada beberapa sekolah melakukan program sekolah jumat bergizi, setiap jumat makan buah, hal kecil tapi insya allah hasilnya luar biasa dan ini kami akan louncingkan, kami akan upayakan untuk terus berlanjut sehingga bukan sekedar usai louncing saja, akan tetapi diupayakan terus berkelanjutan.
Terkait Adanya laporan ada anak putus sekolah dimamuju diwilayah saletto, Maka segera akan kami tindaklanjuti bersama pihak Diknas Provinsi untuk turun bersama mencari jalan keluar.
Untuk persekolah ATS kami ada dua alternative, melihat masalah yang ada, yakni ada sekolah formal dan ada lewat non Formal, namun dengan melihat apa pokok permasalahannya dulu, kemudian kami mencarikan solusinya apa terkait dua alternatif tersebut.
Apalagi sejak 2018 kami sudah melakukan upaya pengembalian anak putus sekolah dan sempat mendapatkan rekor muri saat itu, namun kendalanya yang dihadapi setelah mereka dikembalikan adalah memantau kembali apakah anak tersebut betul betul sekolah apakah tidak lagi, itu perlu ada pengawasan ulang agar tidak kejadian setelah dikembalikan diberikan pakaian namun tidak bersekolah lagi, pungkasnya.(Ani/*)











Komentar