Lapisnews.com,-Mateng – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) Sulawesi Barat, tengah menggagas sebuah inovasi bernama Sisapa (Sikat Sampah Plastik). Program ini dirancang sebagai proyek perubahan dalam upaya menangani persoalan sampah yang semakin meningkat, khususnya sampah plastik.
Dari data DLH Mateng, volume sampah yang diangkut setiap hari telah mencapai 20 ton, mencakup sampah organik dan non-organik. Angka tersebut diprediksi akan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, sehingga jika tidak ditangani dengan tepat, terutama sampah plastik akan berpotensi mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan masyarakat.
“Sisapa ini bagian dari proyek perubahan yang kami gagas. Bukan hanya soal kebersihan, tapi untuk membentuk kesadaran dan budaya baru dalam memperlakukan sampah plastik,” kata Asmuni, Kepala DLH Mateng sekaligus inisiator program, Jumat 25 Juli 2025.
Ia menambahkan, pencemaran plastik sudah berdampak pada lingkungan sekitar, bahkan mikroplastik telah ditemukan di sumber air lokal. Tak hanya merusak ekosistem, kondisi ini juga mengancam kesehatan masyarakat.
Program Sisapa masih dalam tahap perencanaan, namun disusun dengan pendekatan Edukasi, Eksekusi, dan Evaluasi. Nantinya, masyarakat akan diajak memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta memanfaatkan kembali sampah menjadi produk yang bernilai.
“Kami ingin memulai dari perubahan pola pikir. Misalnya, membiasakan pegawai tidak lagi membawa air minum botol sekali pakai. Sebagai gantinya, kantor menyediakan air galon bersama,” jelas Asmuni.
Langkah ini, kata dia, tidak hanya mengurangi sampah plastik, tapi juga bisa menekan anggaran belanja air kemasan di kantor-kantor pemerintah.
Selain itu, Sisapa juga akan diarahkan untuk membuka peluang ekonomi melalui pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan masyarakat, seperti bank sampah, UMKM daur ulang, hingga pelatihan keterampilan dari limbah rumah tangga yang bernilai ekonomis.
“Program ini tidak hanya soal kebersihan, tapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Hal ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menekankan perlindungan lingkungan sekaligus penguatan ekonomi rakyat,” ujarnya
Ke depan, kata Asmuni berencana menggandeng sekolah, komunitas lokal, serta organisasi masyarakat agar gerakan ini menjadi milik bersama dan bukan hanya proyek seremonial.
“Sampah adalah urusan kita bersama. Sisapa hadir untuk mengajak, bukan menyalahkan. Mari mulai dari rumah, dari kebiasaan kecil, menuju perubahan besar,” pungkasnya.











Komentar