by

Pendekatan Berbasis Toleran Mampu Menangkal Radikalisme

LAPISNEWS. COM, JAKARTA – Pemerintah tidak bisa sendirian dalam menangani gelombang gerakan ekstremisme dan terorisme di Indonesia. Fokus penanganan dengan menggandeng pondok pesantren dan tokoh agama, merupakan jalan tepat dalam menyelaraskan tujuan.

Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin mengatakan pergerakan ekstremisme dan terorisme tentu saja berubah-ubah. Metodenya pun beragam, dari indoktrinasi hingga brainwash dengan cara yang kerap mengedepankan militansi yang membabi buta, kebenaran yang berdasarkan sepihak pada golongannya sendiri.

Penjelasan Badan Nasionalisme Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menyebut metode baru dengan rekrutmen kalangan remaja, ini menjadi garis merah. Agar penanggulangan dan pencegahannya, selangkah lebih maju dari skenario yang dibuat kelompok terlarang tersebut.

”BNPT tentu memiliki data aktual. Bagaimana kelompok yang dimaksud bergerak. Pada posisi ini, tentu perlunya masukan, bantuan dari tokoh agama, dengan melibatkan kalangan santri pondok pesantren,” jelas Azis Syamsuddin dalam keterangan resminya, Jumat (13/11/2020).

Penetrasi kelompok radikal dengan pendekatan pada generasimuda, menjadi misi khusus. Tentu saja kelompok radikal yang dimaksud BNPT memiliki pesan-pesan dan metode kuat yang mampu memberikan pengaruh.

”Kekuatan inilah yang harus pula dipelajari dan ditangkal cepat. Masukan dari alim ulama, tokoh agama, lalu pendekatan terhadap pondok pesantren, jelas akan memberikan warna positif. DPR menilai langkah BNPT sudah tepat. Dan ini harus berkelanjutan,” terang politisi Partai Golkar tersebut.

Ditambahkan Azis, Pemerintah harus pula intens dalam memberikan edukasi secara masif. Baik langsung maupun tidak langsung. Banyak metode yang mampu diserap dengan mudah oleh generasi muda.

”Perhatian dan pendekatan itu kunci awal. Memberikan edukasi tentunya tidak hanya di bangku sekolah. Ruang-ruang kegiatan, diskusi ringan, sampai memberikan penjelasan lunak pada media bergambar juga penting. Bahaya sekali, jika benih radikal itu sudah tertanam dalam mindset,” papar Azis.

Azis berpesan, kolaborasi yang dilakukan untuk menangkal kelompok radikal lebih mengedepankan pada metode dialogis. Sebab paham-paham radikal, lebih cendrung mengajarkan intoleran. Bangkitkan rasa kebangsaan generasi muda kita.

”Tidak pula agresif, tapi perlu ketegasan. Apalagi kerap kita jumpai, polanya sama menggunakan simbol agama. Dan ingat, jangan pula mengindentikkan aksi terorisme dengan pondok pesantren. Agama dan kebangsaan dua sisi dari satu mata uang,” pinta wakil rakyat dari Dapil II Lampung itu. (ful)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed