by

LPG Bersubsidi 3 Kg, Dinilai Tak Tepat Sasaran

-Ekonomi-656 views

LAPISNEWS.COM (POLMAN).- Harga LPG 3 Kg bersubsidi di Polewali Mandar Provinsi Sulbar mengalami kenaikan secara marathon dan tidak terkendali. Hal ini dipicu ulah para pangkalan LPG 3 Kg yang menaikan harga di luar ketentuan pemerintah, Pangkalan menaikkan antaran Rp 18.500 hingga Rp 19.500 per unit, padahal sesuai ketentuan yang ditetapkan pemerintah, harga ditingkat pangkalan hanya Rp 16.500 perunit tetapi faktanya tidak demikian sehingga terpaksa pengecer juga ikut menaikkan yang tidak sesuai HET hingga Rp 25 ribu perunit.

Kenaikan harga LPG 3 kg itu, dipicu kurangnya pasokan, bahkan diperpuruk lagi tidak meratanya pembagian LPG 3 kg disetiap wilayah yang telah disepakati antara pemerintah dengan para agen maupun pangkalan LPG 3 kg bersubsidi itu tetapi faktanya tidak demikian dan ditemukan pengecer mencari tabung dari Tinambung dengan jarak 30 Km dari pusat kota Polewali untuk menukar tabung LPG 3 kg di pangkalan milik Suharto di Polewali.

“ Selama ini saya tukar tabung LPG 3 kg di daerah tentangga, Kabupaten Majene tetapi setelah pemkab Majene melarang para pangkalan LPG 3 kg menjual keluar daerah (Polman red), terpaksa saya langsung ke Polewali dan setiap minggunya mendapat jatah dari pangkalan hingga 20 unit dengan harga Rp 19.500 perunit.

Pangkalan, LPG 3 kg di jalan RA. Kartini kelurahan Sulewatang kecamatan Polewali, Maskur dikonfirmasi mengatakan, sesungguhnya LPG 3 kg itu tidak pernah langkah, hanya saja konsumen pemakai LPG bersubsidi ini meningkat tajam, bahkan menjadi pemicu terjadinya kekurangan tabung LPG 3 kg itu lantaran pemakaian salah sasaran dimana harusnya tabung 3 kg yang bersubsidi itu hanya dieruntukan bagi orang tidak mampu atau orang miskin tetapi faktanya justru pemakai umumnya adalah ASN yang meiliki penghasilan tetap dan warga ekonomi menengah keatas.

Padahal pihak pengusaha Tabung gas LPG itu telah menyediakan tabung 5 kg hingga 12 kg khusus untuk orang mampu seperti ANS tetapi mereka enggang membeli dan lebih cenderung memilih LPG 3 kg. Sehingga bagi pangkalan cenderung melayani konsumen secara umum.

“ Kalau saja pemerintah serius mau memberikan jaminan kepada setiap pangkalan LPG 3 kg secara tertulis serta daftar nama warga yang berhak menggunakan LPG 3 kg, kami siap membantu secara konsisten”, ujar Maskur.

Menjawab adanya sinyalemen, pangkalan LPG 3 kg dinilai melakukan penimbungan termasuk menaikkan harga diluar ketentuan HET, yang ditetapkan pemerintah. Maskur membantah dan kembali mempertanyakan, bagaimana mungkin pangkalan mau melakukan penimbunan sementara perputaran ekonomi bisnisnya harus berjalan efektif agar modal tidak tersendat. “

Kalau ada oknum pangkalan berani melakukan penimbunan, berarti bisnisnya dapat dipastikan akan bangkrut karena perputaran ekonominya ikut mandek”, ungkap Maskur.

Dikatakan, sesungguhnya peraturan yang dikelurkan pemerintah sendiri sangat jelas regulasinya. Hanya saja, pemerintah telah membuat peraturan dan UU tetapi pemerintah sendiri ikut melanggarnya sehingga pihak pengusaha pangkalan LPG di ini menjadi bingun karena kurangnya penanganan serius dari pemerintah untuk mengantisipasi bukan terjadinya penyesuaian harga lantaran dipicu bertambahnya konsumen pemakai LPG 3 kg itu, kata Maskur.

Sementara Pangkalan LPG 3 Kg, Suharto alias Apto dikonfirmasi mengatakan, pihaknya menaikkan harga karena jatah diberikan Agen LPG 3 kg itu sangat berkurang, bahkan pengiriman dari Parepare juga sering terlambat tiba, “ Secara ekonomi, sesungguhnya kalau harga tukar tabung LPG 3 kg dipangkalan untungnya nihil, apalagi jatah sebelumnya dari agen sebayak 300 tabung tetapi sekarag hanya 100 unit, itupun kadang terlambat sehingga dikeluhkan pelanggan”, ungkap Suharto

sembari menambahkan, kurangnya pasokan ke Polman seiring dengan berkurangnya Agen LPG dan Polman masih membutuhkan Agen. Apalagi sejak tidak beroperasinya Agen LPG H.Hafid dan menurut informasi dalam waktu dekat kembali beroperasi An.  nama perusahaannya belum dicoret di Pertamina Depok Parepare, kata Suharto.

Dari hasil investigasi Jurnalis media ini di sejumlah titik pangkalan LPG 3 kg di Polewali, Lantora dan Wonomulyo ditemukan adanya sejumlah pangkalan juga melakukan penjualan eceran kepada konsumen dengan cara, membuka kios tersendiri yang dikelola sanak keluarganya ( istri dan anaknya red), bahkan salah satu Agen, di Wonomulyo, Bapaknya Agen, dan kelurganya jadi pangkalan dan pengecer dengan harga diluar ketentuan HET. Harga LPG 3 kg tidak menentu lantaran kurangnya pengawasan dari instansi terkait.

Walaupun pemkab Polman melakukan operasi pasar LPG 3 kg dengan harga Rp 16. 500 perunit disejumlah titik diantaranya di keluarahan Takatidung kecamatan Polewali, yang diduga sarat dengah nuansa politik karena dilakukan menjelang pilkada tetapi tidak berarti dan diduga merupakan salah satu bentuk pemborosan anggaran APBD.

Kadis Koperindag Polewali Mandar, H.Harun Abu, SP yang hendak dikonfirmasi tentang fenomena itu alami jalan buntu. “ Pak Kadis lagi keluar”, ujar salah seorang stafnya. (Andi Rasyid Moerdani).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed